Jumat, 20 Mei 2011

Kencan Pertama Bareng Si Putih

Minggu pagi itu cerah sekali. Tak ada sedikitpun awan yang menghalangi laju sinar mentari dari atas sana. Hanya terlihat hamparan biru bak permadani. Pun saya yang sudah mandi dan gosok gigi lekas menghampiri "Si Putih", motor Sanex kesayangan dapat warisan dari kakek saya. Si Putih sudah tak bisa lagi distater, jadi musti sedikit olahraga kaki untuk menghidupkan mesinnya. Sembari menunggu mesin Si Putih panas, saya merias diri. Jaket parasit, semprot parfum di ketek, pasang kacamata hitam biar dikira intel :cool, dan tak lupa pake helm standar SNI. Saya pun siap, berangkat menuju rumah pacar tercinta. Kencan! (Girang sangat, soalnya baru pertama kali punya pacar :p)
:travel :ngacir2

Rumah pacar saya lokasinya berada di pegunungan, jadi tak heran dalam perjalanan banyak berjumpa turunan dan tanjakan yang lumayan curam. Lima belas menit perjalanan, saya suda mulai memasuki kawasan pegunungan. Jalan sudah mulai tak semulus ketika masih di perkotaan. Saya mulai mengurangi kecepatan. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam tujuh, tanjakan dan tikungan tajam dilalui Si Putih dengan aman lancar terkendali. Dan tak lama, rumah pacar saya sudah terlihat si atas sana. Tapi ketika sedang di jalan menanjak, Si Putih ngeden-ngeden. Perasaan saya mulai ga enak. Penyakit ngeden Si Putih kumat lagi! :nohope:

Saya segera ambil tindakan, turunin gearnya ke gear 2, tetep mesinnya ngeden! Saya turunin lagi ke gear 1, ngedennya berkurang tapi mesinnya bergetar kayak kompresor tukang tambal ban. Rasanya seperti sedang disetrum jutaan volt oleh Si Putih! :ngakak

Si Putih berjalan tertatih tatih melewati tanjakan dengan suara mesin yang berisik bak mesin pabrik. Dan jangan lupakan juga getaran mesin Si Putih yang hampir menyaingi getaran gempa di Mentawai. Akhirnya, sampai juga saya di ujung tanjakan tepat di pekarangan rumah pacar saya. Terlihat ibunya sedang menyapu pekarangan, melihat saya pun dia langsung melemparkan senyum. Saya pun membalas senyuman itu sembari tangan mematikan mesin motor. Mungkin mesin motor Si Putih terlalu panas, sehingga menimbulkan bau panas yang sangat menyengat. Seperti bau masakan gosong. Maklum lah Mocin (Motor Cina, tapi bukan Mocin yg dijual di FJB itu loh..:D)

Ibunya langsung menghampiri dan menyalami saya, sembari basa basi menanyakan kabar dan semacamnya. Saya pun kemudian dipersilahkan masuk. Sebentar setelah saya duduk sembari menikmati cemilan yang disuguhkan si ibu, pacar saya keluar dari kamarnya.

"Eh.. Udah lama nunggunya?" tanyanya sambil senyum. :kiss
"Enggak kok, barusan dateng." jawabku singkat. Padahal tadi saya datang dengan suara gemuruh beserta goncangan dashyatnya Si Putih. Masih saja dia tidak merasakan kedatangan saya. :nohope:

Kami pun mengobrol santai di sofa ruang tamunya. Tak lama, ibunya menghampiri pacar saya dan menyuruh mengunjungi sodaranya yang berlokasi lumayan jauh. Tanpa mikir panjang, berangkatlah saya dan sang pacar menunggangi Si Putih. Ahh.. senangnya bisa naek motor berduaan :malu

Namun, serasa ada yang mengganjal di perasaan saya. Soalnya saya tahu, jalan menuju rumah saudaranya itu lumayan ektrim. Ada satu tanjakan yang lumayan curam dan sepertinya Si Putihku bakal sedikit kewalahan menaklukan tanjakan tersebut. Ahh,, gimana nanti saja lah.. :ngacir

Dalam perjalanan, kami mengobrol sana sini sambil diiringi backsound suara gemuruh mesin Si Putih. Dan sebentar lagi. Ya, sebentar lagi kita akan melalui tanjakan yanng saya khawatirkan itu. Ded-degan, gugup, nervous. Bagaimana nanti kalo si Putih ngeden lagi? Malu dah saya. Mana ini kencan pertama sama pacar baru saya. Nah loh!!

Terlihat! Saat ini saya sedang berhadapan dengan tanjakan yang saya namakan "Tanjakan Setan 360 derajat". Saya pun ambil ancang ancang. Pada posisi gear 2, saya memutar gas Si Putih sampe habis. Sontak pacar saya yg dibonceng pun kaget, dan reflek tangannya memeluk erat dari belakang. :peluk Si Putih pun melaju kencang dengan riuh mesin dan getaran yang sangat sangat luar biasa. Dan seperempat tanjakan dilahap lancar. Si Putih pun masih melaju kencang di tengah tanjakan!

"Sedikit lagi, ayo sedikit lagi..!" teriakku dalam hati. Tapi..
"Blebb..blebb..blebb..blebb..!!!" Si Putih ngedennya kumat :cd. Pacar saya pun semakin merapatkan pelukannya karena takut terjatuh.

"Motornya gak kuat nanjak ya?" celetuk pacar saya yang membuat saya semakin gugup dan malu bukan kepalang. Saya pun bergegas meminggirkan motor sembari menginjak rem sekuat tenaga karena takut kalau sampe mundur lagi.

"Kuat kok.." jawabku gugup. Langsung saja saya pindahkan ke gear 1 diiringi suara gemuruh mesin Si Putih. Gas diputar sampe full, dan akhirnya sampai juga di atas tanjakan meski berjalan ngeden gaya siput ngesot.

Aduhh.. benar benar memalukan. Sangat memalukan meski muka saya sudah tertutup helm. Bagaimana bisa kencan pertama kesannya begini? Rasanya tuh kayak kejebelos ke planet makhluk makhluk aneh, di terror segerombolan monster yang lagi parade, terjun ke panggung sirkus aneh, dan di lempar ke kebun bunga raksasaaa!! (iklan kalee :p)

Setelah melewati jalan itu, semuanya berjalan lancar. Karena jalan di depan tak ada yag curam. Hufftt.. saya bernafas sedikit lega. Tapi bagaimana nanti kalo jalan pulang?? Waduh...!!

Tak usah diceritakan lagi pun mungkin sudah ketebak, Si Putih ngeden lagi pas kami dalam perjalanan pulang. Dan sesampainya kembali kami ke rumah, saya meminta maaf sama pacar saya. Maaf kalo tadi dalam perjalanan merasa tidak nyaman dengan motornya, begitu saya bilang. Tapi alhamdulillah dia enggak marah :kiss

Itulah mungkin sebuah pengalaman saya dengan "Si Putih", motor Sanex produksi negeri Tirai Bambu warisan dari si kakek. Bagi saya, itu adalah cerita berkendara bersama mantan pacar saya dulu, yang paling berkesan dan masih belum terlupakan dari ingatan sampai sekarang.

Senin, 14 Februari 2011

Dear friends, butuh solusi serta penjelasan..

Lajuku terhenti di persimpangan. Bingung, kemana kaki akan kugerakkan melanjutkan perjalanan. Tersentak ku duduk sejenak. Menikmati hembusan angin yang terbangkan kering dedaunan.

Kutolehkan pandanganku ke kiri. Sebuah jalan berliku penuh kerikil tajam beserta bebatuan runcing, pun jurang terdalam menghiasi setiap sisinya. Aku tahu, akan ada kebahagiaan di ujung sana. Lebih tepatnya masa laluku. Masa dimana senyum bahagia ku alami, pun tawa-tawa indah yang selalu menghiasi sudut-sudut hari. Tapi akankah kualami kebahagiaan yang sama? Karena aku sadar, keadaan dulu sangat jauh berbeda dengan sekarang. Atau malah akan tambah bahagia bila kembali kesana? Ahh, aku takkan pernah tau jika tak sampai di ujung jalan sana.

Kutinggalkan kiri, kemudian kupalingkan pandangan ke kanan.Jalan yang gelap pekat tanpa sinar setitikpun. Hanya terlihat bias kerlip tanda tanya besar yang berjajar. Namun sedikit bisa kurasakan, akan ada banyak hal baru yang nanti kurasakan di ujung jalan sana. Akan ada banyak wewarni hidup yang kelak menghiasi. Juga disana, petaka mungkin akan ku temui dan bencana pasti ku alami. Tapi akan begitu banyak pelajaran dan intisari yang bakal kita dapat dari hal tersebut. Karena hanya dengan merasakan "masalah" akan membuat kita tambah dewasa.

Kembali kupalingkan pandanganku dari kanan itu. Ku angkat kepala menuju langit, kembali merenung sembari melihat awan berkejaran di hamparan biru atas sana. Berharap kedua jalan itu bersatu, lancar menuju ujung jalan yang bahagia. Masa lalu beserta hal yang baru

Aku sadar, tak boleh lama-lama aku merenung di persimpangan ini. Atau waktu akan menghajarku!

291210 12:08 AM

Selasa, 31 Agustus 2010

Anak kecil pura pura dewasa

Hufftt... hari ini melelahkan, tapi tidak se-lelah senin kemarin. Banyak yg mengeluh-ngeluh masalahnya sama saya. Ada yg mengeluh baru diputusin cintanya (nah loh..!?) Ada yang mengeluh abis mutusin cinta, bahkan ada yang teriak teriak minta dibawain sate padang, waduhh..

Kedewasaan serasa diuji hari ini, dimana saya harus memberikan suatu solusi pada mereka yang mengeluh meminta saran. Sebisa saya, semampu saya, setahu saya, saya mencoba memberikan solusi terbaik dengan rangkaian kata kata yang ringan dan mudah dimengerti. Hmm.. pura pura dewasa hari ini hehehe :)

Rabu, 30 September 2009

Sendiri

Sendiri
Tak ada yang menemani
Sepi
Tanpa serpihan hati
Sunyi
Tak ada yang dinanti
Mungkin smua tlah mati?

Hampa batin ini
Ingin dimaki
Ingin dinasihati
Ingin dicintai
Ingin dikasihi
Aku sendiri

Sendiri
Disini
Tanpa berkecil hati
Merangkai mimpi
Tanpa peduli

Sendiri
Mungkinkah terus begini?
Sampai mati?